Secara umum penginderaan jauh dapat didefinisikan sebagai pengumpulan data tentang objek dari kejauhan (tanpa kontak langsung dengan objek). Manusia dan berbagai tipe binatang melakukan pengideraan dengan mata atau dengan indera penciuman atau pendengaran. Beberapa ahli menggunakan teknik penginderaan jauh untuk memonitor fenomena yang ada di bumi, seperti litosfer, biosfer, hidrosfer, dan atmosfer. Penginderaan jauh untuk pemantauan lingkungan biasanya dilakukan dengan bantuan sensor yang digunakan untuk memperoleh informasi tentang objek tanpa kontak fisik dengan objek yang diindera. Alat pengindera (sensor) dapat dipasang pada helikopter, kapal terbang, dan satelit. Sebagian besar alat pengindera merekam informasi dari objek dengan mengukur transmisi/ pancaran energi elektromagnetik dari pantulan atau radiasi permukaan objek.
Bentuk penginderaan jauh yang sederhana menggunakan kamera fotografi pada panjang gelombang tampak atau inframerah dekat. Pada akhir 1800-an, kamera diletakkan pada balon atau layang-layang untuk memperoleh foto udara miring. Selama Perang Dunia I, foto udara memainkan peranan penting dalam memperoleh informasi posisi pergerakan pasukan musuh. Setelah perang, foto udara digunakan untuk tujuan sipil. Foto udara banyak digunakan dalam pembuatan peta topografi dan peta referensi dari kenampakan alami dan buatan manusia yang ada di permukaan bumi.
Selama Perang Dunia II, foto udara berwarna mulai berkembang. Pada foto udara berwarna gambaran alami objek tampak jelas. Warna objek yang terekam pada foto udara berwarna seindah warna objek aslinya sehingga dapat meningkatkan perolehan informasi dari objek. Mata manusia dapat membedakan lebih banyak pola pada foto berwarna dibanding foto hitam putih. Pada tahun 1942 Kodak membuat film inframerah warna yang dapat merekam panjang gelombang inframerah pada spektrum elektromagnetik. Film inframerah warna memiliki kelebihan dalam menembus kabut dan kemampuan untuk menentukan tipe dan kondisi vegetasi.
Pada 1960-an, revolusi teknologi penginderaan jauh dimulai dengan peluncuran teknologi satelit ruang angkasa. Dari titik ketinggian yang ditentukan, satelit memperoleh cakupan pandangan yang luas pada permukaan bumi. Satelit cuaca tersebut merekam area yang luas di permukaan bumi menggunakan kamera vidicon, tidak menggunakan film konvensional untuk menghasilkan citra. Ketika objek direkam, data kemudian dikirim secara elektronik ke stasiun penerima di bumi. Pada 1970-an revolusi kedua dari teknologi penginderaan jauh dimulai dengan peluncuran satelit sumberdaya alam (Land Satellite – LANDSAT). Pada tahun-tahun berikutnya teknologi satelit dan sensor penginderaan jauh semakin berkembang. Saat ini terdapat berbagai macam satelit yang mengelilingi bumi yang memperoleh citra spesifik dan berbagai tipe.
Satelit penginderaan jauh yang ada menghasilkan citra dengan berbagai macam resolusi (resolusi spasial, spektral dan temporal). Resolusi spasial pada citra terkait dengan objek terkecil yang dapat disajikan, dibedakan dan dikenali pada citra. Jadi bila kita ingin mendeteksi objek yang kecil di permukaan bumi, maka diperlukan citra satelit dengan resolusi yang tinggi. Resolusi spektral menunjukkan sensitivitas sensor pada panjang gelombang tertentu. Ini juga berhubungan dengan kemampuan dalam pembedaan objek. Resolusi temporal berkaitan siklus pengulangan satelit untuk merekam daerah/objek yang sama. Ada satelit yang mampu merekam objek dua kali dalam sehari, sedangkan satelit yang lain hanya dapat merekam 35 hari sekali.
Sistem sensor penginderaan jauh berdasarkan sumber energi yang dipakai berupa sensor aktif dan pasif. Sensor dikatakan pasif karena tidak memancarkan energi sendiri. Sensor pasif mempergunakan pantulan/ pancaran energi dari objek di permukaan bumi yang berasal dari sinar matahari. Hal ini berarti sensor hanya dapat beroperasi di siang hari. Sensor pasif biasanya berupa sensor optik/elektro-optik. Sebaliknya terdapat pula sistem pencitra yang aktif, seperti Radar, yang memancarkan sinyal pada panjang gelombang mikro dan merekam karakteristik pantulan sinyal setelah mengenai permukaan bumi.
Citra Penginderaan Jauh sangat banyak digunakan dalam berbagai bidang kehidupan seperti pemetaan penutup dan penggunaan lahan, pertanian, pemetaan tanah, kehutanan, perencanaan kota, investigasi arkeologi, observasi militer, survey geomorfologi, dan masih banyak lagi.
Source : www.physicalgeography.net , www.geoimage.com.au , Penginderaan Jauh Jilid 1, Sutanto, 1986
tlong penjelasan tentang kinerja sensor yang digunakan dan juga pemotretannya?
kalo datanya lebih diperjelas boleh ngak??
cos Q butuh data yang lebih nee